Lompat ke konten
Home » Tanaman Endemik Gunungkidul Yang Mempesona

Tanaman Endemik Gunungkidul Yang Mempesona

  • oleh
Tanaman Endemik Gunungkidul

Tanaman Endemik Gunungkidul Yang Mempesona – Gunungkidul yakni wilayah yang mempunyai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, bagus tumbuhan ataupun satwa. Tetapi ketika ini, ada sebagian tumbuhan endemik Gunungkidul yang berada di ambang kepunahan. Guna melestarikan spesies endemik ini, pemerintah mulai menyusun sejumlah Taman Kehati yang tersebar di sebagian kapanewon wisatagunungkidul.com.

Tanaman Endemik di GunungKidul

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Aris Suryanto menuturkan, ada 13 tipe spesies endemik Gunungkidul yang berada di ambang kepunahan. Diantara spesies yang berada di ambang kepunahan, yang terbanyak berjenis tumbuhan. Diantaranya ialah Pulai (Alstonia scholaris), Wuni (Antidesma bunius), Huru Sintok (Cinnamomum sintoc), Jamblang (Eugenia cumini), Kepel (Stelechocarpus burahol), dan Kepuh (Sterculia foetida), Ara (Ficus racemosa), Elo (Ficus glomerata), Kalpataru / Bodhi (Ficus religiosa), Kesambi (Schleisera pinnata) dan Ashoka (Saraca indica).

Spesies Tanaman Endemik

Spesies-spesies endemik ini berdasarkan Aris ketika ini berada di ambang kepunahan. Adapun ada sebagian penyebab dari situasi sulit ini. Diantaranya ialah kepunahan ini disebabkan sebab terbatasnya jumlah spesies hal yang demikian. Kemudian juga, tak ada upaya budidaya yang dikerjakan oleh pihak tertentu sehingga tak ada regenerasi dan kemudian jumlahnya punah. Guna menjaga spesies-spesies langka ini, pihaknya menginisiasi penyusunan Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati).

“Telah ada Taman Keanegaragaman Hayati yang berdiri di sebagian kapanewon untuk menjalankan melestarikan tanaman endemik Gununungkidul,” kata Aris Suryanto.

Ketika ini, telah ada 4 Taman Kehati di Gunungkidul. Diantaranya ialah Taman Kehati Wonosadi di Durian, Beji, Ngawen; Taman Kehati Sengon di Kenis, Purwodadi, Tepus; Taman Kehati Jurug di Danggolo, Purwodadi, Tepus yang ketiganya didirikan semenjak 2015. Kemudian pada tahun 2017 silam, juga berdiri Taman Kehati Eroniti di Kapanewon Ponjong.

Spesies Tanaman Autentik Gunungkidul

“Di Taman Kehati ini ada 77 tipe tumbuhan autentik Gunungkidul, termasuk juga 13 tanaman yang telah langka, semoga dapat lestari,” imbuh ia.

Progres budidaya dikerjakan oleh petugas di tiap-tiap taman hal yang demikian. Dengah kemauan supaya ke depan tanaman autentik Gunungkidul bisa kembali lestari.

“Masyarakat lazim boleh berkunjung ke taman ini untuk mengetahui tanaman-tanaman yang banyak tak dikenal. Seperti pula dengan sistem budidayanya. Ini dapat menambah wawasan edukasi sekaligus bertamasya,” jelasnya.

Kecuali tanaman, pihaknya juga mendata keanekaragaman hayati endemik karst Gunungsewu yang ada di Gunungkidul yang telah dalam golongan langka. Satwa-satwa ini diantaranya ialah Kepiting Karst (Karststarma jacobsoni), Kalajengking Karst tidak berekor (Sarax javanica) serta Udang Karst (Macrobrachium poeti).

Menjelang akhir bulan November, musim mekar Bunga Amarilis kembali datang di kawasan Kabupaten Gunungkidul. Kecuali di Kecamatan Patuk, musim mekar Bunga Amarilis juga timbul di wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul seperti di Kecamatan Tanjungsari, tugu perbatasan Kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul dan di sejumlah spot di sepanjang Jalan Yogyakarta-Wonosari.

Bermekarannya Bunga Amarilis yang oleh warga setempat diketahui sebagai Puspa Patuk ini menarik perhatian pelancong untuk datang ke Kabupaten Gunungkidul.

Salah seorang pemilik kebun Bunga Amarilis di Kecamatan Pathuk, Karsih mengatakan bunga yang mulanya dianggap warga sebagai tanaman liar ini mekar di permulaan musim penghujan. Lazimnya mekarnya Bunga Amarilis akan bertahan selama dua sampai tiga pekan.

“Mulai mekar bunganya tak dapat diprediksi. Lazimnya mekar ketika permulaan mulai turun hujan. Selang sebagian hari semenjak turun hujan pertama, bunga akan mulai mekar. Lazimnya mekarny bertahan cuma 2-3 pekan sebab Bunga Amarilis bila acap kali terkena hujan akan rusak”ujar Karsih.

Karsih menjelaskan kebun Bunga Amarilis miliknya sebagian kali dikunjungi oleh pelancong yang mau berswafoto. Tiap-tiap wisatan ditarik tarif masuk, bsarannya sekitar Rp 10 ribu per orang.

“Tiap-tiap orang yang masuk ke kebun ditarik Rp 10 ribu. Ini telah kesepakatan dengan para pengelola kebun Bunga Amarilis lainnya. Jumlah pengunjungnya tak pasti, kemarin ada 50 orang” terang Karsih.

Salah seorang pengunjung kebun Bunga Amarilis, Siti warga Sleman mengaku mengenal mulai mekarnya bunga berwarna jingga ini dari media sosial. Ketika itu, kebetulan ada sahabatnya yang men-upload sebagian foto di tengah hamparan Bunga Amarilis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *